Menjadi Sahabat Penggiat Budaya Indonesia
::> Melalui tulisan ini, kami mengajak kepada rekan-rekan semua untuk turut serta memberikan dukungan dan do’a restunya atas Penyelenggaraan Bantengan Nuswantara 2010.
::> Pagelaran Kesenian Tahunan BANTENGAN NUSWANTARA 2010 adalah agenda tahun ke-3 yang di laksanakan oleh Komunitas Penggiat Budaya Indonesia – Kota Batu – Jawa Timur. Dan telah menjadi ciri khas Jawa Timur dan Malang Raya khususnya bagi Kota Batu sebagai tempat berlangsungnya kegiatan
::> Kami, panitia adalah gabungan dari berbagai kelompok masyarakat Sadar Seni Budaya Tradisi dan berkomitmen untuk melestarikannya, khususnya Kesenian Bantengan.
::> Sekedar informasi, acara yang kami laksanakan ini murni kegiatan inisiatif masyarakat. Walaupun pada tiap tahun kami juga mengajak keterlibatan Pemerintah, Sponsor dan Donatur. Akan tetapi, permasalahan pendanaan cukup menjadi ganjalan dalam pelaksanaan.
BANTENGAN NUSWANTARA 2010 (new)
KPBI-Agenda utama yang selalu ditunggu-tunggu baik oleh
Padepokan/Grup Seni Bantengan se-Jawa Timur, pencinta seni tradisi, pemerhati budaya, wisatawan lokal dan mancanegara maupun oleh masyarakat luas. Dalam setiap penyelenggaraannya, acara utama ini
semakin mengalami kuantitas dan peningkatan kualitas penampilan peserta. Peningkatan jumlah padepokan/grup seni Bantengan tidak terlepas dari semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesenian ini yang pada masa-masa sebelumnya kurang mendapat ruang ekspresi, pelengkap perayaam karnaval Agustusan, tidak menarik dan dianggap membahayakan bagi para penonton.
Kesadaran meningkatkan kualitas dibuktikan dengan semakin ragamnya kreasi gerak tari (walaupun tetap mengacu pada pakem dasar), syair/suluk tembang dan cerita serta kreasi kostum pemain dan perangkat pada Bantengan.
NAMA KEGIATAN : BANTENGAN NUSWANTARA 2010
TEMA KEGIATAN : CULTURAL DIVERSITY
Semangat Kebersamaan Menjaga Ragam Budaya Bangsa
MASA PELAKSANAAN : 18 – 30 APRIL 2010
TEMPAT PELAKSANAAN : KOTA WISATA BATU – JAWA TIMUR –
Cultural Diversity
CULTURAL DIVERSITY atau KERAGAMAN BUDAYA
“diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara
yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat
untuk mengungkapkan ekspresinya”
MENJAGA KEANEKARAGAMAN BUDAYA
“Budaya, identifikasi sebagai bentuk nyata yang mencerminkan keberadaan sebuah bangsa. Relasi keduanya sangat kuat, karena ada unsur kepemilikan”.
Kesadaran untuk membangun masyarakat Indonesia yang sifatnya multibudaya, dimana acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multibudaya adalah multibudayaisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan,1999).
Dalam model multikultural ini, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat bangsa seperti Indonesia) dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mosaik tersebut.
Model multibudayaisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi: “kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”.
Keragaman budaya adalah memotong perbedaan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di Indonesia. Jika kita merujuk kepada konvensi UNESCO 2005 (Convention on The Protection and Promotion of The Diversity of Cultural Expressions) tentang keragaman budaya atau “cultural diversity”, cultural diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya.
Hal ini tidak hanya berkaitan dalam keragaman budaya yang menjadi kebudayaan latar belakangnya, namun juga variasi cara dalam penciptaan artistik, produksi, disseminasi, distribusi dan penghayatannya, apapun makna dan teknologi yang digunakannya. Atau diistilahkan oleh UNESCO dalam dokumen konvensi UNESCO 2005 sebagai “Ekpresi budaya” (cultural expression). Isi dari keragaman budaya tersebut akan mengacu kepada makna simbolik, dimensi artistik, dan nilai-nilai budaya yang melatarbelakanginya
Dalam konteks ini pengetahuan budaya akan berisi tentang simbol-simbol pengetahuan yang digunakan oleh masyarakat pemiliknya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungannya. Pengetahuan budaya biasanya akan berwujud nilai-nilai budaya suku bangsa dan nilai budaya bangsa Indonesia, dimana didalamnya berisi kearifan-kearifan lokal kebudayaan lokal dan suku bangsa setempat.
Kearifan lokal tersebut berupa nilai-nilai budaya lokal yang tercerminkan dalam tradisi upacara-upacara tradisional dan karya seni kelompok suku bangsa dan masyarakat adat yang ada di nusantara. Sedangkan tingkah laku budaya berkaitan dengan tingkah laku atau tindakan-tindakan yang bersumber dari nilai-nilai budaya yang ada. Bentuk tingkah laku budaya tersebut bisa dirupakan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari, pola interaksi, kegiatan subsisten masyarakat, dan sebagainya. Atau bisa kita sebut sebagai aktivitas budaya.
Dalam artefak budaya, kearifan lokal bangsa Indonesia diwujudkan dalam karya-karya seni rupa atau benda budaya (cagar budaya). Jika kita melihat penjelasan diatas maka sebenarnya kekayaan Indonesia mempunyai bentuk yang beragam. Tidak hanya beragam dari bentuknya namun juga menyangkut asalnya. Keragaman adalah sesungguhnya kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Didasari pemikiran diatas, sebagai bagian upaya menjaga secara penuh kepemilikan atas warisan kebudayaan tradisional bangsa Indonesia yang Agung dan Luhur. Serta menjadikan narasi narasi kecil yang selama ini telah kami lakukan agar mampu menjadi bagian dari sebuah catatan kebudayaan, maka Bantengan Nuswantara 2010 kembali kami laksanakan. Sebuah upaya kebersamaan aktivitas budaya agar berguna bagi Bangsa Indonesia tentunya.
kepala hitam
Gambar ini adalah karya cipta original Agus Riyanto (Ketua Panitia/Komunitas Penggiat Budaya Indonesia). Diyakini oleh beliau bahwa ini adalah “tatto” yang ada pada tubuh leluhur bantengan tertua, yang sekarang bersemayam di Jonggring Saloka – Gunung Semeru.
(Gambar dilindungi oleh Hak Atas Kekayaan Intelektual)
Jaman Fajar Kebudayaan
SULUH GEBYAK BANTENGAN NUSWANTARA 2009
JAMAN FAJAR KEBUDAYAAN
“Terbitnya Cahaya Baru Dari Timur”
Jauh sebelum mengenal peradaban kebudayaan yang menyatakan tanda mapan, nenek moyang kita apabila hendak berburu binatang bantheng, melakukan upacara untuk mendapatkan kesaktian si Bantheng. Kemudian menuliskan gambar-ganbar binatang di gua-gua dan batu-batu sebagai tanda adanya “Fajar Kebudayaan”. Dikala upacara, diucapkanlah secara lisan mantra-mantra. Mantra-mantra tersebut adalah merupakan embrio karya sastra ritual, sehingga timbullah tradisi untuk memperoleh kekuatan ghaib yang digali dan dikembangkan secara alami. Dari budaya ini lahirlah karya sastra Mitos. Mitos adalah cerita-cerita kuno yang dituturkan dengan bahasa indah. Isinya dianggap bertuah, berguna bagi kehidupan lahir dan bathin. Ceritanya tentang kepahlawanan nenek moyang yang digelar secara simbolis. Mitos ini diikuti dan dilestarikan oleh pendukungnya pada generasi berikutnya. Karya Mitos misalnya : Wayang, Tari Srimpi Lima.
Narasi Pagelaran Kesenian Bantengan Nuswantara
1. Kesenian Bantengan.
Kesenian Bantengan, yang berkembang dimasyarakat saat ini, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, dan khususnya Jawa Timur dari sejak duhulu kala. Akan tetapi kesenian tersebut sempat beberapa dekade terakhir mengalami kepudaran, sehingga kesenian ini hanya ada di beberapa tempat saja. Oleh karenanya kesenian ini membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai lini masyarakat, yang berkepentingan untuk ikut bertanggung-jawab. Dengan adanya Pagelaran Kesenian Bantengan Nuswantara yang diagendakan rutin tahunan di Kota Batu, diharapkan sebagai jembatan membangun kembali Kesenian tersebut untuk mampu menjadi bargening possesion karakteristik masyarakat diantara himpitan kebudayaan asing.
Foto Foto Bantengan Nuswantara 2009

Review 8 Maret 2009…
Hari Minggu, 8 MARET 2009 benar benar menjadi festival kerakyatan. khususnya masyarakat Kota Batu yang menjadi tuan rumah tetap agenda tahunan Bantengan Nuswantara 2009.












