Gebyak Bantengan Nuswantara 2008
Bantengan Nuswantara 2009
- Lambang Kegiatan Kolosal Kerakyatan Bantengan Nuswantara Komunitas Penggiat Budaya Indonesia Kota Batu

Bantengan Nuswantara 2009, ini adalah agenda tahunan yang kedua. Tahun 2008, telah diselenggarakan Gebyak Bantengan Nuswantara 2008 yang diikuti oleh 400 seni bantengan se Malang Raya dan dihadiri beberapa tokoh nasional yaitu Jend. (purn.) H. Wiranto, Didi Nini Thowok, Mantan Direktur Eksekutif WALHI Nasional Chalid Muhamad, Samuel Koto dan Jusuf Rizal serta budayawan Jawa Timur.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas non pemerintah yaitu Komunitas Merah Putih dan Komunitas Ngaglik serta didukung oleh Organisasi Masyarakat, Kepemudaan dan Budaya yaitu Karang Taruna, Ikatan Mahasiswa Kota Batu (IMAKOBA), RAPI, ORARI, IPNU, Pemuda Pancasila, KNPI, PMI, Bang Mi’un dan Padepokan Mangun Dharma.
Tentang kemasan acara, selain kesenian bantengan yang tumpah ruah di sepanjang jalan raya kota Batu juga akan diisi oleh partisipasi Drum Band yang pemainnya para bapak bapak, Tari Topeng 1500 anak anak, Sendra Tari, Teatrikal Pelajar (performance art).
Bantengan Nuswantara 2009 berniat mengundang seluruh capres RI 2009-2014 dalam satu tempat dan satu momentum kebudayaan dengan tujuan bahwa menjelang pemilihan presiden 2009-2014, para calon pemimpin negara-bangsa Indonesia secara bersama mendeklarasikan Sumpah Palapa ke 2 yang nantinya tertuang dalam Piagam Batu untuk gambaran masa depan dan kebangkitan kembali Nusantara.
Dan yang perlu ditegaskan, bahwa kegiatan ini bukan acara kampanye salah satu partai akan tetapi sebuah kegiatan kolosal kebudayaan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
8 Maret 2009
SEGERA
BATU, 8 MARET 2009
Kolosal Budaya Kerakyatan di Kota Batu
BANTENGAN NUSWANTARA 2009
bantengan sebagai simbol tatanan negara
banteng sebagai lambang sila ke 4 Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diambil dari makna filosofi kesenian Bantengan yang ketika dahulu Pancasila dirumuskan oleh Soekarno bersama K.H. Hasyim Asy’ari
Bantengan adalah simbol tatanan negara, sejak jaman kerajaan dan dimaknai oleh para pendiri negara-bangsa ini dengan menjadikan lambang kepala banteng sebagai simbol sila 4 Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
kesenian Bantengan, adalah kebudayaan Jawa kuno. ketika masa Pondok Pesantren Tebu Ireng digunakan sebagai media dakwah syiar agama islam. Kesenian Bantengan, bisa dibilang sangat unik karena melibatkan unsur 2 alam (realis dan magis). yaitu alam manusia dan jin (leluhur), maka jika kita melihat seriap seni Bantengan digelar terjadi kesurupan pada pemain, hal itu pula yang menambah keunikan kesenian ini.


