Sang Pengantar
Manakala ekspresi seni pada wilayah virus etnis diwarnai dengan pengaruh demi kepentingan diluar seni, maka akan timbul suatu suasana mencekam yang ditandai dengan rontoknya nilai sebuah komunitas daerah. Dahulu terasa taman seni yang diwarnai ekspresi kerakyatan dan merupakan pustaka adat yang penuh nilai-nilai luhur unik dan penuh daya eksotik religius magis.
Ketika datangnya pluralistik kebudayaan menjadi kabur warnanya dan terjadinya asimilasi budaya yang tidak jelas eksistensinya, puncaknya kini kesenian daerah tidak lagi menjadi kekuatan nasional, malah semakin banyak yang tumbang, patah bahkan hancur nilai-nilainya. Kesadaran berkesenian sebagai kebutuhan mulai tercerai berai, pudar peradabannya sehingga menurunkan ekonomi kerakyatan. Lembaga seni daerah etnis dahulu menjadi pengayom, kini menjadi budaya komersial perekonomian sepihak.
Kearifan tradisional, awal bagi pengabdian pada keberlanjutan kehidupan. Bagi Indonesia, sumberdaya dan keaneka ragaman hayati sangat penting dan strategis artinya bagi keberlangsungan kehidupannya sebagai bangsa. Hal ini bukan semata mata karena posisinya sebagai salah satu Negara terkaya di dunia dalam keaneka ragaman hayati (mega-biodiversity), tetapi justru karena keterkaitannya yang erat dengan kekayaan keaneka ragaman budaya lokal yang dimiliki (mega-cultural diversity).
Para pendiri Negara-Bangsa (nation-state) Indonesia sudah sejak lama menyadari bahwa Negara ini adalah Negara kepulauan yang majemuk sistem politik, sistem hokum dan sosial budayanya. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” secara filosofis menunjukkan penghormatan bangsa Indonesia atas kemajemukan atau keberagaman sistem sosial yang dimilikinya.
Ketergantungan dan tidak terpisahkan antara pengelolaan sumberdaya dan keaneka ragaman hayati ini dengan sistem-sistem sosial lokal yang hidup di tengah masyarakat bisa secara gamblang dilihat di daerah pedesaan/ komunitas sosial adat sederajat yang saat ini populasinya mencapai 50 – 70 orang, maupun dalam kokmunitas-komunitas lokal lainnya yang masih menerapkan sebagian dari sistem sosial berlandaskan pengetahuan dan cara-cara kehidupan tradisional. Yang dimaksud dengan masyarakat adat disini adalah mereka yang secara tradisional tergantung dan memiliki ikatan sosio-kultural dan religius yang erat dengan lingkungan lokalnya.
Sudah banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat adat Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keaneka ragaman hayati alami. Suatu realitas bahwa mereka masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam, sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Mereka umumnya memiliki sistem pengetahuan dan pengelolaan sumberdaya lokal yang diwariskan dan ditumbuh kembangkan terus menerus secara turun temurun.
Upaya-upaya pemulihan (recovery) terhadap pranata (kelembagaan) adat/lokal merupakan tantangan terbesar yang harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang berpihak pada kearifan tredisional, baik dikalangan pemerintah maupun dalam elemen-elemen gerakan masyarakat sosial di Indonesia, termasuk Kota Batu pada khususnya.
Ditengah-tengah situasi pengelolaan sumberdaya hayati yang semakin memprihatinkan serta kecenderungan meningkatnya ancaman terhadap keneka ragaman hayati dari perkembangan politik dan ekonomi yang berkembang di daerah, nasional dan global, semakin memperkuat keyakinan bahwa masyarakat adat/lokal adalah tumpuan harapan dari banyak pihak yang peduli dengan pelestarian keanekaragaman hayati. Kearifan tradisional adalah benteng terakhir yang wajib dipertahankan.
Seni bantengan merupakan salah satu aset budaya bangsa, sebuah simbol kerakyatan yang telah hadir sejak jaman nenek moyang. Sebagai suatu penghargaan terhadap kekuatan kedaulatan rakyat kecil. Bisa kita bayangkan, sosok banteng yang kuat, didukung dengan otot yang kekar, tanduk yang tajam, dan tendangannya yang mematikan, merupakan simbolik eksternal tentang kekuatan rakyat, namun demukian banteng tetap merupakan rumput.
Mengungkap isu dunia pariwisata yang kurang menjaga nilai nilai seni dan tradisi yang mengakibatkan terserabutnya makna pertunjukan seni tradisi. Perkembangan seni menjadi komoditi pesanan, kesannya kehilangan roh budaya makna dalam kehidupan. Padahal bingkai pariwisata nasional merupakan induk besar untuk mewadahi berbagai potensi dan aset keragaman budaya bangsa Indonesia dengan berbagai akomodasi perspektif pemikiran yang melatar belakangi.
Disinilah letak latar belakang pemikiran penyelenggaraan kegiatan kolosal kerakyatan ini. Sebagai kelanjutan pelaksanaan Gebyak Banthengan Nuswantara 1 tahun 2008, Komunitas Penggiat Budaya Indonesia kembali menjaga rutinitas tahunan dengan menyelenggarakan kembali rangkaian kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2 tahun 2009. Dapat dikatakan kegiatan ini adalah salah satu inovasi dalam kegiatan budaya, hal ini dapat dilihat dari tinjauan kritisnya. Yaitu :
1. Pembangunan sarana pariwisata modern sangat dibutuhkan di Batuy, tetapi perkembangan selanjutnya investasi besar tidak memberikan efek pengganda ekonomi yang memadai di kota Batu. Pengembangan budaya sebagai aset wisata di kota Batu haruslah berorientasi pada pertumbuhan yang sesuai dengan kemampuan masyarakat itu sendiri.
2. Pemerintah selama ini kurang menyentuh pada pembengunan kesadaran pelaku budaya likal bahwa mereka memiliki daya tawar yang tinggi atas dimilikinya aset budaya mereka.
3. Kegiatan ini nantinya akan selalu menyentuh pelaku budaya dengan cara yang berbeda dari yang selama ini dilakukan, yaitu dengan mempertemukan pelaku budaya dengan para wisatawan perkotaan. Kegiatan ini nantinya bisa menjadi model bagi peningkatan kepercayaan diri masyarakat dan pelaku budaya pada khususnya atas asset budaya yang mereka miliki.
4. Diperlukannya upaya yang sungguh-sungguh untuk meyakinkan masarakat atas peluang pengembangan sector pariwisata ini melalui pembentukan lembaga-lembaga wisata publik yang terdesentalisir, yang mendedikasikan dirinya untuk usaha mempertajam positioning Batu Kota Tujuan Wisata.
Kegiatan ini pada nantinya dapat mengisi bingkai Pariwisata Nasional diatas sekaligus mempertajam positioning Kota Batu sebagai salah satu Kota Tujuan Wisata Indonesia dengan bangkitnya kesadaran atas tinjauan kritis diatas.
Memoar Kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2008
Pertama kalinya dalam sejarah kota Batu, beberapa elemen masyarakat yang menyatu dalam sebuah kerja bersama Komunitas Penggiat Budaya Indonesia menyelenggarakan kegiatan kolosal kerakyatan bertajuk Gebyak Banthengan Nuswantara 2008.
Selain masyarakat lokal Batu dan Malang Raya, pelaku kegiatan ini juga terdiri dari beberapa tokoh nasional, sebut saja Ir. Samuel Koto, Drs. Chalid Muhammad, Ki Soleh, Gus Udin dan pada pelaksanaannya yang dikuti oleh 400 Seni Banthengan se Malang Raya di hadiri pula oleh Jendral (Purn.) Wiranto, Didi Nini Towok, Yusuf Rizal dan tokoh masyarakat lokal lainnya serta jajaran Muspida Kota Batu. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan organisasi dan komunitas se kota Batu, aparat kepolisian dan perhubungan benar benar sangat membantu tehnis pelaksanaan kegiatan ini
Pada awalnya, kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2008 yang di ketuai oleh Agus Riyanto, salah seorang seniman lukis dan tradisi kota Batu ini bertujuan khusus memecahkan rekor MURI, karena kegiatan ini adalah pertama kalinya di Indonesia digelar seni Banthengan di sepanjang jalan raya kota Batu (panjang rute sekitar 3 km). Terlebih, kegiatan ini adalah sebagai bentuk inovasi yang unik dalam bidang seni dan budaya tradisi.
Tentang kemasan acara, selain seni banthengan sebagai pertunjukan utama, kolaborasi yang terjadi dan sangat menarik adalah pertunjukan aksi Laskar Sakerah dan performance art teatrikal yang menyuguhkan cerita tentang 9 Handaka (9 Dewa Banteng). Kegiatan yang dimulai pada pukul 10 pagi sampai 4 sore ini benar benar mampu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang ada di kota Batu.
Selain acara gebyak banthengan, agenda kegiatan lain yang memberikan pesan edukasi kepada masyarakat tentang pelestarian seni budaya tradisional adalah diselenggarakannya Pameran Benda-Benda Seni Tradisi Indonesia dan Pameran Fotografi Gebyak Banthengan Nuswantara 2008 bertempat di Galeri Raos Batu. Keseluruhan agenda kegiatan tersebut dilaksanakan pada sepanjang bulan Maret 2008 dan sebagai penutup kegiatan, panitia melaksanakan Istighosah dan Do’a syukur bertempat di sekretariat Komunitas Penggiat Budaya Indonesia.
Lomba Foto Bantengan Nuswantara 2009
TEMA LOMBA :
CAKRAWALA HARMONI INDONESIA
Bantengan Sebagai Simbol Kerakyatan
LOKASI LOMBA :
Event Bantengan Nuswantara 2009
Minggu, 8 Maret 2009
Mulai pukul 09.00 WIB
Start Stadion Brantas Kota Batu – Jl. Agus Salim – Alun-Alun Kota Batu (Jl. Gajah Mada) – Jl. Panglima Sudirman – Finish Balai Kota Batu
LOKASI PAMERAN :
GALERI RAOS Jl. Panglima Sudirman 06 Kota Batu
15 – 18 Maret 2009
KETENTUAN UMUM LOMBA
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Pendaftaran gratis.
3. Mengisi formulir pendaftaran dan mendapat tanda peserta lomba (ID Hunting) di Sekretariat Panitia Bantengan Nuswantara 2009 Jl. Brantas gg. 2 no. 3 Kel. Ngaglik Kota Batu atau di Kantor Dinas Pariwisatakota Batu Jl. Sultan Agung no. 5 Batu mulai tgl 16 Februari – 7 Maret 2009.
4. Hasil foto yang didapat selama acara Bantengan Nuswantara 2009 tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil peserta.
5. Hasil pemotretan tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
6. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
7. Foto peserta yang diikutkan dalam lomba menjadi milik penyelenggara lomba (hak cipta tetap pada fotografer).
8. Dengan mengikuti lomba ini, peserta menyetujui segala ketentuan lomba.
KETENTUAN FOTO BANTENGAN NUSWANTARA 2009
1. Foto mempunyai ciri suasana event (overview atau detail) kegiatan Bantengan Nuswantara 2009
2. Menggunakan kamera format film atau digital jenis SLR, Prosumer atau Pocket.
3. Karya foto dicetak dengan ukuran 10RS (20 cm x 30 cm) full image tanpa border tanpa laminasi dan tanpa alas apapun dengan mencantumkan Judul dan No Peserta dibalik foto.
4. Olah digital diijinkan sebatas pada pengaturan kontras, dodging, sharpening, burning, noise reduction/dust removing dan cropping dan tidak dilakukan manipulasi (menghapus atau menambah) obyek atau subyek foto asli (termasuk watermark dan border juga dilarang).
5. Peserta wajib mengumpulkan karya foto dalam bentuk Hard Copy dan Soft Copy paling lambat tgl 10 Maret 2009 di Sekretariat Panitia Bantengan Nuswantara 2009 Jl. Brantas gg. 2 no. 3 Kel. Ngaglik Kota Batu atau di Dinas Pariwisata Kota Batu Jalan Sultan Agung no.5 Kota Batu
HADIAH DAN PENGUMUMAN LOMBA
1. Pengumuman dan penyerahan hadiah lomba akan diumumkan pada pembukaan pameran dan lomba foto BANTENGAN NUSWANTARA 2009 Hari Sabtu, 14 Maret 2009 pada jam 19.00 WIB
2. Foto seluruh peserta dan nominator akan dipamerkan di Galeri Raos Kota Batu pada tanggal 15 – 18 Maret 2009
Juara 1 hadiah Rp. 1.000.000,-
Juara 2 hadiah Rp. 750.000,-
Juara 3 hadiah Rp. 500.000,-
CP :
Komunitas Penggiat Budaya Indonesia
Wido Bamandhika : 081333523000/085854803000
Hafid Adam : (0341)7377716/085649863762
Dinas Pariwisata Kota Batu
Aji Sakti (Cepek) : 081334076109