Jaman Fajar Kebudayaan

12 Maret 2009 at 12:24 (Uncategorized)

SULUH GEBYAK BANTENGAN NUSWANTARA 2009

JAMAN FAJAR KEBUDAYAAN

“Terbitnya Cahaya Baru Dari Timur”

Jauh sebelum mengenal peradaban kebudayaan yang menyatakan tanda mapan, nenek moyang kita apabila hendak berburu binatang bantheng, melakukan upacara untuk mendapatkan kesaktian si Bantheng. Kemudian menuliskan gambar-ganbar binatang di gua-gua dan batu-batu sebagai tanda adanya “Fajar Kebudayaan”. Dikala upacara, diucapkanlah secara lisan mantra-mantra. Mantra-mantra tersebut adalah merupakan embrio karya sastra ritual, sehingga timbullah tradisi untuk memperoleh kekuatan ghaib yang digali dan dikembangkan secara alami. Dari budaya ini lahirlah karya sastra Mitos. Mitos adalah cerita-cerita kuno yang dituturkan dengan bahasa indah. Isinya dianggap bertuah, berguna bagi kehidupan lahir dan bathin. Ceritanya tentang kepahlawanan nenek moyang yang digelar secara simbolis. Mitos ini diikuti dan dilestarikan oleh pendukungnya pada generasi berikutnya. Karya Mitos misalnya : Wayang, Tari Srimpi Lima.

JAMAN KERAJAAN SINGHASARI

Para Empu Relief candi jaman Singhasari menggambarkan cerita Tantri (kehidupan binatang), tentang kisah “sang ajak” (srigala) yang mengadu domba banthengan dan harimau. Hal inilah yang meng-ilhami para seniman membuat replica seni banthengan dan macanan. Ketika ilmu pengetahuan (khususnya dalam bidang kesusasteraan) semakin maju, jadilah karya sastra Fabel dan Tantri yang mengisahkan kehidupan binatang.

CERITA ASAL-USUL KEKUATAN DAN KESAKTIAN BANTHENGAN

Dalam buku Serat Pustakaraja Purwa jilid I, karya R.Ng. Ranggawarsita ; hal. 111 menceritakan : Di masa Srawana tahun Chandra Sengkala 202, di Kerajaan Medhang Gora-Bali, ada anak bantheng yang dimakan harimau. Bantheng sakit hati dan datang menghadap pada Sri Maharaja Margapati yakni Sang Hyang Bayu untuk minta keadilan. Sri Maharaja berkata : “Jika anakmu dimakan harimau, kamu membalaslah makan anak harimau”. Sang bantheng menjawab bahwa dia tidak mau makan anak harimau, karena dia tidak memakan daging. Sri Maharaja berkata lagi : “Ya sudah, kalau begiru kamu menerima saja, karena kamu tidak mau memakan anak harimau”. Lalu bantheng pergi dengan perasaan kecewa dan sakit hati. Suatu hari bantheng pergi ke Medhang Siwanda di Gunung Mahendra unntuk mengadu kepada Maharala Balya, beliau seorang Brahmana Raja Bahlika. Disitu bantheng mendapat kekuatan yang terletak pada tanduknya. Sejak saat itu bantheng merasa ada keberanian, masuk ke hutan untuk menghadang harimau. Setiap bertemu dengan harimau “di sundhang” dengan tanduknya. Dan sejak saat itu pula harimau takut melawan bantheng.

CERITA WAYANG MALANGAN tentang ASAL-USUL BANTHENG

Dalam lakon Dewi Sri, symbol Kumalane Rejeki, menjadi perebutan antara Celeng Srenggi, Kala Gumarang dan Bambang Badhuk Basu, yaitu seorang perawakan raksasa yang bertapa bergelimangan dengan air tanah (ledhok). Tiada berhenti bertapa, apabila belum mendapatkan raja rejeki yang bernama Dewi Sri. Ketika pemburuan Dewi Sri oleh Kala Gumarang dan Celeng Srenggi mengalami jalan buntu, Dewi Sri menyelamatkan diri masuk gua dimana tempat Bambang Badhuk Basu bertapa. Seperti pucuk dipinta ulampun tiba, keinginan Badhuk Basu untuk berdekatan dengan Dewi Sri terlaksana, namun rasa cintanya ditolak oleh Dewi Sri. Dewi Sri berlari keluar gua, Badhuk Basu mengejarnya. Jeritan Dewi Sri terdengar oleh Jaka Sedhana, suaminya. Dengan panah wuluh gading, akhirnya Badhuk basu jatuh roboh, disitu keajaiban terjadi. Badhuk Basu berubah menjadi Bantheng. Cerita Dewi Sri ini memberikan kontribusi untuk mitos kesuburan tanah. Terutama untuk keselamatan tanaman padi agar terhindar dari serangan hama. Maka dengan gelar “GEBYAK BANTHENG NUSWANTARA 2009” ini, diharapkan akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama di bidang rejeki.

Ki Soleh Adi Pramono

Batu, 8 Maret 2009

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Narasi Pagelaran Kesenian Bantengan Nuswantara

11 Maret 2009 at 04:25 (Uncategorized) (, , , , , , , , )

1. Kesenian Bantengan.

Kesenian Bantengan, yang berkembang dimasyarakat saat ini, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, dan khususnya Jawa Timur dari sejak duhulu kala kala. Akan tetapi kesenian tersebut sempat beberapa dekade terakhir mengalami kepudaran, sehingga kesenian ini hanya ada di beberapa tempat saja. Oleh karenanya kesenian ini membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai lini masyarakat, yang berkepentingan untuk ikut bertanggung-jawab. Dengan adanya Pagelaran Kesenian Bantengan Nuswantara yang diagendakan rutin tahunan di Kota Batu, diharapkan sebagai jembatan membangun kembali Kesenian tersebut untuk mampu menjadi bargening possesion karakteristik masyarakat diantara himpitan kebudayaan asing.

Perkembangan kesenian Bantengan yang terjadi di masyarakat Jawa Timur kususnya, berkembang dimasyarakat pedesaan dan kelompok Pencak silat, sesuai dengan kepentingan dan fungsinya masing-masing. Sifat- sifat ini yang disebut dengan fungsi Eksternal dan Internal kebudayaan Bantengan.

Fungsi Ekternal, yaitu fungsi kesenian Bantengan pada masyarakat awam atau pada umumnya sebagai bagian dari kesenian daerah atau tontonan kesenian kebudayaan daerah setempat. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada kegiatan-kegiatan besar daerah atau Negara, antara lain :

1. Perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus

2. Gebyak Banteng pada tahun baru jawa, yang lebih dikenal dengan suran

3. Untuk mengarak acara panghargian atau selamatan, yaitu : Selamatan desa, khitan, nikah, panen, tanam tuwuh ( menabur

bibit tanaman ), dsb

Fungsi internal, yaitu fungsi kesenian Bantengan pada masyarakat tertentu, yang memang mengembangkan kesenian tersebut. Fungsi ini biasanya bersifat hiologis spiritual kesenian budaya daerah setempat. Kegiatan ini biasanya ada beberapa bagian penting yang harus dilakukan kelompok kesenian Bantengan tersebut , yaitu antara lain :

1. Selamatan kesenian Bantengan pada hari-hari tertentu

2. Upacara pembuatan kepala banteng

3. Upacara pengisian spirit spiritualisasi pada alat kesenian banteng, khususnya pada kepala kesenian banteng

4. Penyempurnaan alat kesenian Bantengan, yang dianggap sudah tidak bisa digunakan lagi untuk acara-acara gebyak Bantengan

(biasanya ini dilakukan dengan larungan atau pembakaran, sesuai dengan tata cara daerah setempat)

Kegiatan kesenian bantengan biasanya didukung oleh beberapa ornament pendukung, diantaranya:

1. Tanduk (banteng, kerbau, sapi, dll)

2. Kepala banteng yang terbuat dari kayu ( waru, dadap, miri, nangka, loh, kembang, dll)

3. Klontong (alat bunyi di leher)

4. Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu yang menggunakan)

5. Kain hitam sebagai badan penyambung kepala dan kaki belakang

6. Gongseng kaki

7. Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)

8. Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden

9. Sesepuh, pamong, dan pendekar

10. Berbagai macam alat dan kelengkapan yang diperlukan.

2. Sejarah Kesenian Bantengan

Perkembangan kesenian Bantengan tidak terjadi pada jaman-jaman sekarang ini, melainkan sudah ada sejak Jaman Jenggala, Kahuripan, Gajahyana, bahkan abad-abad sebelumnya. Jika kita menimbang beberapa tulisan skrip para pujangga baik itu yang tertulis di prasasti maupun skrip layang- lontar, maka kita dapat berpedoman sebagaimana acuan kita berkesenian bantengan ini khususnya. Yang diantaranya :

Layang

I. DANUR WEDA ( TATA KENEGARAAN )

NGANGEKSO SIGUNGGUNG AMEKSO DWI JATI

TRANATA TRACECEP PURIDHO NGEKSO RONO

AGENG SIGUNGGUNG HAMUNG AGUNGENG SRIWANANDARA

SARANG KARANG ANGGANA SINARA ARANA WEGYA

JORO ANGULIH REKSO HANGAKSANENG MUDYA

WAREK ANOM NGAREH RUNO ING HAMBEKSO

“Jika kita mau memperhatikan (mempelajari) sifat sejatinya banteng

Jangan hanya engkau mengagumi sifat yang dimiliki binatang tersebut

Banteng sebenarnya punya watak keagungan yang berwibawa bagi kehidupan

Keagungan banteng difungsikan sebagai simbolis manusia dengan alam sekitar

Oleh karenanya sumber kemakmuran tidak luput dari siapa yang memimpin

Jika sang pemimpin mampu memiliki sifat ini, bisa dibayangkan negeri ini”

Layang atau tulisan ini tertulis di lontar pada Jaman Kahuripan – Kurawan – Kediri Abad II – III M

II.BABAT PURWA KERTI ( TATA KEHIDUPAN )

LOH PAMUDYANENG SIGUNGGUNG ANGGONDO TURISHA

SIGUNGGUNG NGELANG PURITHA SARI ING YANADWIPA

LAMON ANYARIRO NGAREH TEMBE ANYALARIRA REKMO

HAMENG-HAMENG SI GULA-GELI JAYA MAHENTHAKA

SURA-SURANENG MARTAKHA WONO JALI ING PAYAM BANA

SUNTAKANE AWAK NGGAYA SURIDHA MAHENTHAKA

“Pada jaman Purwa Jawi (turisha) kejayaan banteng sebagai tunggangan punggawa

Banteng merupakan simbolik kejayaan suatu Negara/ Kerajaan

Pada waktu tertentu banteng ini digunakan untuk arak-arakan raja kepada rakyatnya

Raja hanya mau mengendarai banteng yang paling kuat yang mempunyai sebutan (Mahenthaka)

Perayaan ini diteruskan dengan acara kesuburan atau titah kesuburan raja

Setelah banteng diarak keliling negri kemudian disembelih sebagai sesaji upacara”

Layang atau tulisan ini tertulis di lontar pada jaman Singosari – Majapahit abad V – IX M

III.LUNGKONANTA ( SERAT PERTANIAN )

JAYENG RANA HAMENG GUNA

SAYENG TAKA RUWENG TAKA

MAYANG ANGMAYA TANTUKA ANGMAYA

SIAMANG RUNA UMANG ANGRUNA

SIGUNGGUNG TALA JAYENG RANA

EWANG EWUNG SANG MAYA MAYA DWIPA

“Dalam tata kehidupan semesta alam yang harus dimengerti adalah tata sarana

Tidak ada satupun permintaan yang tanpa menggunakan sarana untuk mencapainya

Sarana itu harus kita resapi baik dari yang hidup maupun yang khususnya tidak hidup

Jika kita mampu mengertinya, maka tidak hanya permintaan dan keinginan tercapai

Banteng pun akan menari untuk kita demi keagungan alam semesta

Untuk itu patutlah kita mengembalikan semua itu pada keagungan sang penari (Banteng menari)

Layang atau tulisan ini tertulis di prasasti Candi Mangku Bumi pada jaman Samadwipa – Gajahyana Abad I M

IV.SULUK PLENCONG ( SERAT PERDAYANGAN )

ANGREKSA REKASAHANE HAMUDYA TUWUH

JAWI RUMEKSA ING SATIGIL RUWANA DWIPA

MANGERTINYA SAMYA AJI SIGUNGGUNG JAYA RANA

WOS KANG DADI SARTO WEDHI WERAH HUWONO

SI MAHESTAKA TANTAKA HANDOKA HYANG JAYA GIRING WESI

HAMENGKU ANA ING TANAH JAWI JAWA PAMUDYA

UTAMA UTAMANE AMENG GUNA KALAWAN SEKTI

MURIH HAYU KARAHOYONANE PRAHURUSA

“Pada setiap tempat keagungan pasti ada Sang Kuasa Agung yang menjadi tuntunan

Yang bernaung di tanah utama Jawi ( Nuswantara ) itu berasal dari asal mula keagungan

Keagungan itu menjadi dasar tutunan utama bagi semua sang hidup atau hidup itu sendiri

Semua itu sudah menjadi tatanan kehidupan yang harus dipatuhi oleh semua mahluk hidup yang bernaung didaerah itu

Sang Maha Banteng yang mengendalikan semua itu mulai dari banteng ( Handoko)

Sejak jaman Hyang Jaya Giring Wesi ( Raja yang masih menggunakan ilmu Manunggaling Semesta Alam)

Raja itu mengatur tanah Jawi dengan kekuasaan semesta alam ( Sabdha Panditha Ratu )

Titah raja adalah titah semesta alam ( bisa dikatakan raja adalah tangan Tuhan di dunia)

Semua itu hanya untuk menjaga keseimbangan alam dalam tata kehidupan dari awal sampai akhir”

Layang atau tulisan ini tertulis di lontar pada jaman Babat Purwajawi – Jawadwipa

V. ASNA WEDA ( MANUSIA DAN BINATANG )

MANGKARA SINGKARAK ANAMPYAK JALA

SANBAMBANG IWA GUNA MANUSWITHA

NGURAH REH ING HAMYANA JATI

HANG WASYA IMA GUNA YEKTI AMYA HAYU

SARANA TERPA MIRATA HAYEKTI SAMARA LANA

SIWANG SIWANG GUMULULENA ANYELA

HAMUDYANE HAMESTAKA GUNA SAYEKTI

“Dalam jalur tata kehidupan untuk mencapai tata kehidupan didunia

Pola kehidupan itu tidak luput dari pola kehidupan yang saling menyatu

Dalam tata kehidupan yang sejati sebenarnya sama tak ada beda

Perbedaan itu hanya tergantung pada Sang Pemimpin ( Banteng Simbolik pada Sang Pemimpin )

Semua itu hanya alat dan kelengkapan tata kehidupan yang ada, antara manusia dengan alam semesta

Segala macam dan bentuk itu semua hanyalah kesempurnaan alam semesta

Maka seyogyanya harus saling memperhatikan untuk mencapai kesempurnaan”

Layang atau tulisan ini tertulis di lontar pada jaman Singhasari Abad VI – VII M

VI. JATI PANULUH ( CAKRA MANGGILINGAN HIDUP DAN KEHIDUPAN )

KAKAWITANE TATA DWIPA LUPA SUNYO RURI

WADYA MENGKU SEMO KUMO LEKSA SANTAKA

HANYURA SARPA KRECHA KANCANA HANDAGHA

MURAK NGEKSA AMEMEDYANENG ANALA LASTHA

LIWANG LAWANG LUWUNG SUWUNG BUWONO

HADYA SIWAH SAWANGGANA ANGGANDA SARI

SRIHUTHAMA MUDYA HAMEMITHUI SIWANGKALANE

ANYARI MUDYA MEDARENG WAHANA SUWUG JAGAD DUMADI

“Cikal bakal tata kehidupan yang diawali dari sebelum adanya kehidupan di alam semesta

Diawali dengan tetes air kehidupan yang penuh cahaya kehidupan abadi

Air itu ditempatkan di cupu Sarpa Kreca Kencana Handagha

Kemudian tetesan air itu diambil sepercihan sinar untuk kehidupan

Percihan itu sebenarnya tata hidup kosong dan keabadian

Dintara persilangan itu ada inti sari kehidupan yang terus berkembang

Percihan itu menjadi sari yang kemudian menjadi penjaga air tetes kehidupan yang berwujud seekor sapi keling ( Banteng )

Dari air susu sapi keling itu menjadi wujud kehidupan yang beraneka ragam”

Layang atau tulisan ini tertulis di lontar pada jaman Jawa dwipa- Aswadwipa

3. Filsafat Dan Falsafah Kesenian Bantengan

a) Piwulan ( penjabaran / penjelasan ) tentang Banteng

1. Tanduk, wujud permohonan diri kepada Sang pencipta dengan sikap keteguhan atau sungguh sebagai wujud kuasa Maha Kuasa untuk menjadi penguasa di alam semesta

2. Kepala, wujud tempat pengendalian diri dari bebagai macam keangkaraan di dunia secara ke dalam pada diri pribadi manusia

3. Klontong, wujud sikap kehati-hatian diri dalam menjalani perjalanan hidup, yang selalu berpegangan pada hati suci (Gumantung tanpa centelan)

4. Keranjang, wujud sikap yang selalu menimbang hasil sebab akibat, setelah apa yang diperbuat (Kasyunyatan)

5. Kain hitam, wujud dari hidup yang serba misteri, yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Untuk itu kita hanya berkewajiban untuk menjalani darma hidup sebagai titah Sang Kehidupan

6. Gongseng kaki, wujud dari tata usaha manusia untuk merubah apa yang sudah menjadi garis laku kehidupannya (Tarian si Hidup)

7. Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden, wujud dari berbagai macam perubahan dan perkembangan kehidupan, dimana kita berkewajiban untuk selalau menyesuaikan diri dari peradapan (Perkembangan jaman)

8. Pendekar pengendali kepala bantengan, wujud pengendali angkara hidup pada diri dari unsur luar. Sebagai Among Projo (aparat keamanan), pelaksana tata hu kasyunyatan UMADIENG WAHANA yang beraneka ragamkum yang berlaku. Artinya kita tidak boleh semaunya sendiri, tapi harus selalu menyesuaikan diri atau menempatkan diri.

9. Sesepuh, wujud dari pemimpin yang memutuskan segala sesuatu tata kehidupan baik yang sifatnya horizontal dan vertical (Spiritual dan sosial)

10. Pamong, wujud dari aparat pemerintahan yang berkewajiban untuk mengendalikan segala tata kemasyarakatan

c) Paweling ( nasehat / saran / memo )tentang banteng

® Eyang Jago Wido ( Suryo Haryo Handoko )

“ Titenana yen mbesok wes ana sarpo kantaka Handoko Brang saka wetan dalane, sinuwuk ubrug wahana jati. Amedar galeh jaya pamudya kaluhuruneng partiwi. Iku kang dadi titi wanci kawitane Negara pranata utama ing arum. Gelar anggelareng hambudaya daya manunggaleng ratui adil. Ya kang dadi pamudyaneng budaya jawa. “

“ Ingatlah jika nanti ada barisan, kirab, arak-arakan Banteng Merah yang sangat besar dari arah timur, kondisi ini yang sudah dinanti sejak lama. Yang sebenarnya akan menjelaskan maksud dari semua makna yang tersirat dari isi semua budaya Jawa (Nuswantara) yang nantinya akan membawa pada keagugan Tanah Pertiwi (Indonesia). Itu yang sebenarnya akan jadi cikal bakal untuk memulai Negara adil dan makmur. Gelaran budaya itu merupakan simbolik dari Manunggaling Kawulo Kelawan Gusti secara vertical, dan Manunggaling Kawulo Kalawan Panguwoso secara horizontal. Hal inilah yang disebut dengan Ratu Adil

( Jika Rakyat – Pemerintah – Tuhan sudah menyatu tidak dapat dipungkiri Negara akan mencapai apa yang di cita citakan para leluhur pendiri Bangsa dan Negara ). Hal ini yang menjadi intisari semua ajaran kebudayaan Jawa.

® Eyang Kromo Jati

“ Tangeh lamon siro ngger, yen kate nggayoh ngrungkepi negora iki kate bali tata tentrem rahayu kaya biyen maneh. Mulo kang wos molah utekke wong jawa, yen biyen wong kawulo jawa panghargian mangan daginge sapi wono seng dadi wujud manunggaleng ratu kalawan kawulane. Nangeng ing jaman sakiki kawulo jowo dikongkon mangan teleke maesone ratu ( wujud kyai slamet ), mulo yo tangeh lamon yen panguwoso bakal eleng marang kawulane. Jarene menehi tetulung, wujute ngekeki pangan. Nangeng ngertio yen telek yo tetep wujud telek. Dikapakno ae yo tetep wujud telek. Banjor seng keblinger sopo, retune opo kawulane ?. Pikiren dewe yen retune wes mentengno wetenge dewe, lan kawulane wes picek matane, wes ero telek yo tetep dipangan. Mulo titenana yen kawulo wes bisa nggayoh kanugrahanane sapi wono seng modon saka gunung yaiku tandane Negara bakaleng rahayu”

Amatlah sulit anakKu, jika engkau berharap Negara ini akan kembali adil makmur seperti dahulu kala. Sebab otaknya manusia Jawa sekarang terbalik (keblinger). Jika dulu masyarakat Jawa melakukan panghargaan memakan daging Banteng yang menjadi simbolik menyatunya tatanan kepemerintahan dengan rakyatnya. Namun sekarang rakyat jawa disuruh memakan kotorannya kerbau raja (Atas nama Kyai Slamet). Oleh karena itu jangan harap pemerintah akan ingat dengan rakyatnya. Alasannya memberi pertolongan, wujudnya memberi makanan (Pertolongan). Namun mengertilah jika kotoran tetaplah kotoran, dirubah bagaimanapun ya tetaplah kotoran. Jika sudah seperti itu siapa yang salah?! Kamu pikir sendiri jika Ratunya sudah mementingkan perutnya sendiri, dan rakyatnya sudah buta matanya, sudah mengetahui kotoran tetap saja dimakan. Oleh karena itu ingat – ingatlah jika rakyat sudah bisa mampu merayakan keagungan barisan Banteng yang turun dari gunung itu menjadi tanda Negara akan Adil Makmur.

® Eyang Simo Ludro

“ Banteng ngono wewujud irenge jagad, kang bisa pamudyaneng jagad. Kewan iki kang bisa mengku pranatane Negara. Mulo yen wong tanah jowo wes podho akeh nganggo udeng ireng ( wulung ), iku tandane jawa jawi budo budi moto siji bakal bali siji maneh utamane. Ono kono wedaraneng manungso kang utama, utamane rasa, pangucap, laku, patrap, lan kasyunyatane tumindak kang temen mituhu ana ing darmane manungsa lenggana marang parang palungguane dewe-dewe. Yo iku arane eleng pangeleng. ”

Banteng itu adalah wujud hitamnya dunia, yang sebagai simbol kekuatan dunia. Untuk itu yang bisa pedoman sebuah tatanan Negara. Untuk itu jika orang Jawa sudah banyak yang memakai udeng hitam, atau akan menjadi tanda Jawa dalam semesta alam dan semesta realita budaya berbudaya semesta menyatu dalam diri dengan wujud spiritual intelektual, tiada yang tak mungkin didunia ini untuk diwujudkan untuk menjaga keutamaan alam smesta. Disitulah semua penjelasan tujuan manusia yang utama. Utamanya dari hati suci, sekali ucapan, tindakan yang sungguh-sungguh, perbuatan yang pantang menyerah, dan kenyataan dari semua apa yang dikerjakan sampai pada kesempurnaan dari semua yang diharapkan dan apa yang dicita-citakan, yang semua itu terletak pada darmanya manusia duduk pada fungsi dan kemampuannya masing-masing, tidak pada nafsu keinginannya untuk menguasi atau kepentingannya masing-masing. Itu yang disebut dengan kesadaran yang tahu diri.

d) Falsafat sembilan banteng peñata kehidupan ( Dewa Bathara Bumi )

Didalam inti kesenian banteng yang ada ditanah Jawa khususnya ada Sembilan Dewa Banteng yang mengatur tata kehidupan semesta, sebagai mana fungsinya masing masing. Sembilan unsur itu mulai yang menjaga kemakmuran sampai yang menjaga kesejahteraan kehidupan. Untuk itu Sembilan Dewa ini biasa disebut dengan Dewa Kemakmuran. Untuk itu Banteng biasanya digambarkan sebagai Turangga para Dewa di Jawa. Sebenarnya Banteng simbolik dari kekuatan bumi atau biasa disebut dengan Dayang/ kekuatan yang bernaung ditempat tertentu. Oleh karena itu di atas kekuatan itu pasti ada Dewa atau yang memimpin dari pada ke Esa an Yang Maha Kuasa. Sembilan Banteng Agung itu, dintaranya :

1. Handoko Mastuko Jaya : Menjaga Perdamaian Dunia

2. Handoko Ruweng Geni : Menjaga Keseimbangan Dunia

3. Handoko Brang Seleng Galeh : Menjaga Keutuhan Dunia

4. Handoko Winoro Setho : Menjaga Kelestarian Dunia

5. Handoko Salang Mertho : Menjaga Keindahan Dunia

6. Handoko Hangmukha : Menjaga Kehidupan Dunia

7. Handako Sereng Guana : Menjaga Fungsi Dunia

8. Handoko Angangngasha : Menjaga Rotasi Kehidupan Dunia

9. Handoko Mayang Rengkha : Menjaga Keabadian Dunia

Sembilan Dewa ini, dalam ilmu silat jawa biasa dimiliki oleh Empu silat yang sudah kawakan baik dari jurus sampai pada kesaktian yang dimilikinya. Tatarannnya tidak hanya pada kembangannya, namun daya dan kepastian gerak yang selalu memperhatikan penataan alam semesta. Oleh karena itu ilmu ini biasanya disebut Silat Semesta (Seratan Jiwa Rengkha Gunung Handoko Mayangkara). Pada jaman Majapahit hal ini digunakan untuk ilmu bela diri atau ilmu ketahanan para prajurit.

4. Perkembangan Bantengan

Jika kita memperhatikan data-data diatas, kesenian Bantengan. Perkembangannnya tidak muncul pada Jaman sekarang ini, melainkan sudah muncul sejak jaman dulu, bahkan sebelum adanya sistem kepemerintahan di Bumi Jawa (Nuswantara). Hai ini bisa diurutkan sebagaimana data berikut :

Ø Kesenian Bantengan yang terjadi sekarang, sebagai fungsi hiburan dan tontonan masyarakat secara umum dan khusus pada acara tertentu. Baik itu pada acara hari besar, perayaan, panghargaan, pencak silat, dsb

( Abad ke 19 – ….)

Ø Kesenian Bantengan sebagai fungsi seni budaya spiritual hiorostik Mistik Kejawen, yang fungsinya sebagai perayaan di tempat-tempat tertentu ( tempat sakral dan pertanian )

( Abad ke 17 – 19 M )

Ø Kesenian Bantengan sebagai fungsi seni budaya propaganda pemersatu masyarakat, yang biasanya dilakukan dengan arak-arakan keliling desa

( Abad ke 17 – 19 M )

Ø Kesenian Bantengan sebagai fungsi seni budaya menyampaikan falsafah petuah-petuah sesepuh pada generasi muda, baik yang sifatnya spiritual maupun intelektual. Ini bisa kita temukan pada acara hari-hari tertentu ( U manis / jumat legi )

( Abad ke 15 – 17 M )

Ø Kesenian Bantengan sebagai fungsi seni budaya untuk membentuk Kanuragan dan Kesaktian pemuda-pemuda Jawa. Ini bisa kita temukan bagi masyarakat Jawa yang mencampur kesenian Bantengan dengan Pencak silat

( Abad ke 13 – 15 M )

Ø Kesenian Bantengan sebagai fungsi seni budaya simbolik menyatunya tatanan penguasa/ raja dengan rakyatnya. Pada Jaman Majapahit sampai Singasari. Gelaran bantengan, sebenarnya tidak dilakukan seperti sekarang ini. Yaitu dengan menggunakan bantuan modifikasi kerajinan benda seni budaya. Akan tetapi dengan menggunakan Banteng asli yang ditangkap dari hutan. Kemudian Banteng itu diarak keliling kampung sampai pada lahan pertanian masyarakat. Setelah Banteng itu diarak, binatang itu disembeleh untuk dijadikan korban kesuburan tanah. Upacara ini biasanya diteruskan dengan acara larungan ke laut, atau tolak balak saat desa mengalami Pagebluk

(Penyakit Massal), dengan kepalanya tidak dilarung ke tengah laut, melainkan ditanam ditengah-tengah pusat kepemerintahan. Proses ini bisa kita lihat kesamaannya dengan Kyai Slamet di keraton Jogjakarta.

( Abad ke 6 – 14 M )

Ø Pada jaman Mayadwipa, Babat Jawi (Kerajaan Jenggala, Kahuripan, Gajahyana). Simbolik arak-arakan Banteng dilakukan oleh Punggawa Raja untuk meninjau daerah kekuasaannya, juga sebagai simbolik kepedulian Raja kepada kawulanya. Karena setelah arak-arakan akan dipilih salah satu banteng yang paling gemuk untuk selamatan. Bahkan banteng ini juga simbolik kekuatan dan kesuburan negeri, sampai pada prasasti prasasti biasanya sang raja menunggangi banteng. Hal ini bisa kita temukan pada relief Candi Jago, Tumpang, Malang. (SM sampai Abad ke 7 M )

Ø Jika pada jaman Purwa Jawi, arak-arakan banteng dilakukan sebagai simbolik kekuatan seorang pemuda yang memuncak pada pemilihan Kepala Suku. Dimana pemuda itu akan lari masuk hutan untuk menangkap seekor banteng. Setelah berhasil pemuda itu akan diarak keliling desa sebagai simbol kejantanan dan kekuasaan pemuda itu terhadap desa. ( SM )

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Foto Foto Bantengan Nuswantara 2009

10 Maret 2009 at 14:30 (Uncategorized)

Tarung. By : Ragnar

Tarung. By : Ragnar

Tanduk Tunduk

Tanduk Tunduk

ditambani arek cilik. by : Handa Febrianto

ditambani arek cilik. by : Handa Febrianto

melawan. by : beraksi

melawan. by : beraksi

Koprol. By : Bagus H.

Koprol. By : Bagus H.

Adu Banteng. By : Abraham Hamzah

Adu Banteng. By : Abraham Hamzah

Tunggul Wulung

Tunggul Wulung
nggiring banteng

nggiring banteng

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Review 8 Maret 2009…

10 Maret 2009 at 13:43 (Uncategorized)

Hari Minggu, 8 MARET 2009 benar benar menjadi festival kerakyatan. khususnya masyarakat Kota Batu yang menjadi tuan rumah tetap agenda tahunan Bantengan Nuswantara 2009.

Lebih dari 3500 manusia yang menjadi peserta pengisi acara dan lebih dari 35.000 penonton yang memadati Jalan Raya Utama Kota Batu sepanjang 3 km.

Iring iringan jidor, ketipung, gamelan dan suluhan mengiringi Tarian 500 Bantengan membuat suasana Kota Batu yang biasanya adem ayem, hari Minggu kemarin benar benar dibuat Meriah.

kekhawatiran sempat melanda kami beberapa saat… Bagaimana tidak, pukul 09.00 WIB sesuai jadwal start peserta pawai harus diberangkatkan, ketika Cemeti dari Ketua Panitia Agus Tubrun dilecutkan pertama kalinya sebagai tanda Pawai harus berangkat. Tiba-tiba saja Hujan deras turun, benar benar sebuah hujan yang sangat deras…

Dan Alhamdulillah… Hujan yang sangat deras dapat terang setelah 1 jam membasahi kami dan para peserta. Dan yang lebih luar biasa adalah antusiasme peserta dan penonton yang tetap memadati area pagelaran.

Setelahnya, mulai jam 10 pagi sampai jam 5 sore acara berjalan dengan tertib, nyaman dan aman secara keseluruhan.

Pagelaran Bantengan Nuswantara 2009 diawali oleh pertunjukan Atraksi Pecutan (Pendekar Cemeti) dari Padepokan Sanggar Bodho Desa Pesanggrahan Kota Batu. Keunikan atraksi adalah suara meletup mirip mercon yang ditimbulkan oleh lecutan Tali Cemeti.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sang Pengantar

9 Februari 2009 at 09:23 (Uncategorized)

Manakala ekspresi seni pada wilayah virus etnis diwarnai dengan pengaruh demi kepentingan diluar seni, maka akan timbul suatu suasana mencekam yang ditandai dengan rontoknya nilai sebuah komunitas daerah. Dahulu terasa taman seni yang diwarnai ekspresi kerakyatan dan merupakan pustaka adat yang penuh nilai-nilai luhur unik dan penuh daya eksotik religius magis.

Ketika datangnya pluralistik kebudayaan menjadi kabur warnanya dan terjadinya asimilasi budaya yang tidak jelas eksistensinya, puncaknya kini kesenian daerah tidak lagi menjadi kekuatan nasional, malah semakin banyak yang tumbang, patah bahkan hancur nilai-nilainya. Kesadaran berkesenian sebagai kebutuhan mulai tercerai berai, pudar peradabannya sehingga menurunkan ekonomi kerakyatan. Lembaga seni daerah etnis dahulu menjadi pengayom, kini menjadi budaya komersial perekonomian sepihak.

Kearifan tradisional, awal bagi pengabdian pada keberlanjutan kehidupan. Bagi Indonesia, sumberdaya dan keaneka ragaman hayati sangat penting dan strategis artinya bagi keberlangsungan kehidupannya sebagai bangsa. Hal ini bukan semata mata karena posisinya sebagai salah satu Negara terkaya di dunia dalam keaneka ragaman hayati (mega-biodiversity), tetapi justru karena keterkaitannya yang erat dengan kekayaan keaneka ragaman budaya lokal yang dimiliki (mega-cultural diversity).

Para pendiri Negara-Bangsa (nation-state) Indonesia sudah sejak lama menyadari bahwa Negara ini adalah Negara kepulauan yang majemuk sistem politik, sistem hokum dan sosial budayanya. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” secara filosofis menunjukkan penghormatan bangsa Indonesia atas kemajemukan atau keberagaman sistem sosial yang dimilikinya.

Ketergantungan dan tidak terpisahkan antara pengelolaan sumberdaya dan keaneka ragaman hayati ini dengan sistem-sistem sosial lokal yang hidup di tengah masyarakat bisa secara gamblang dilihat di daerah pedesaan/ komunitas sosial adat sederajat yang saat ini populasinya mencapai 50 – 70 orang, maupun dalam kokmunitas-komunitas lokal lainnya yang masih menerapkan sebagian dari sistem sosial berlandaskan pengetahuan dan cara-cara kehidupan tradisional. Yang dimaksud dengan masyarakat adat disini adalah mereka yang secara tradisional tergantung dan memiliki ikatan sosio-kultural dan religius yang erat dengan lingkungan lokalnya.

Sudah banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat adat Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keaneka ragaman hayati alami. Suatu realitas bahwa mereka masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam, sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Mereka umumnya memiliki sistem pengetahuan dan pengelolaan sumberdaya lokal yang diwariskan dan ditumbuh kembangkan terus menerus secara turun temurun.

Upaya-upaya pemulihan (recovery) terhadap pranata (kelembagaan) adat/lokal merupakan tantangan terbesar yang harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang berpihak pada kearifan tredisional, baik dikalangan pemerintah maupun dalam elemen-elemen gerakan masyarakat sosial di Indonesia, termasuk Kota Batu pada khususnya.

Ditengah-tengah situasi pengelolaan sumberdaya hayati yang semakin memprihatinkan serta kecenderungan meningkatnya ancaman terhadap keneka ragaman hayati dari perkembangan politik dan ekonomi yang berkembang di daerah, nasional dan global, semakin memperkuat keyakinan bahwa masyarakat adat/lokal adalah tumpuan harapan dari banyak pihak yang peduli dengan pelestarian keanekaragaman hayati. Kearifan tradisional adalah benteng terakhir yang wajib dipertahankan.

Seni bantengan merupakan salah satu aset budaya bangsa, sebuah simbol kerakyatan yang telah hadir sejak jaman nenek moyang. Sebagai suatu penghargaan terhadap kekuatan kedaulatan rakyat kecil. Bisa kita bayangkan, sosok banteng yang kuat, didukung dengan otot yang kekar, tanduk yang tajam, dan tendangannya yang mematikan, merupakan simbolik eksternal tentang kekuatan rakyat, namun demukian banteng tetap merupakan rumput.

Mengungkap isu dunia pariwisata yang kurang menjaga nilai nilai seni dan tradisi yang mengakibatkan terserabutnya makna pertunjukan seni tradisi. Perkembangan seni menjadi komoditi pesanan, kesannya kehilangan roh budaya makna dalam kehidupan. Padahal bingkai pariwisata nasional merupakan induk besar untuk mewadahi berbagai potensi dan aset keragaman budaya bangsa Indonesia dengan berbagai akomodasi perspektif pemikiran yang melatar belakangi.

Disinilah letak latar belakang pemikiran penyelenggaraan kegiatan kolosal kerakyatan ini. Sebagai kelanjutan pelaksanaan Gebyak Banthengan Nuswantara 1 tahun 2008, Komunitas Penggiat Budaya Indonesia kembali menjaga rutinitas tahunan dengan menyelenggarakan kembali rangkaian kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2 tahun 2009. Dapat dikatakan kegiatan ini adalah salah satu inovasi dalam kegiatan budaya, hal ini dapat dilihat dari tinjauan kritisnya. Yaitu :

1. Pembangunan sarana pariwisata modern sangat dibutuhkan di Batuy, tetapi perkembangan selanjutnya investasi besar tidak memberikan efek pengganda ekonomi yang memadai di kota Batu. Pengembangan budaya sebagai aset wisata di kota Batu haruslah berorientasi pada pertumbuhan yang sesuai dengan kemampuan masyarakat itu sendiri.

2. Pemerintah selama ini kurang menyentuh pada pembengunan kesadaran pelaku budaya likal bahwa mereka memiliki daya tawar yang tinggi atas dimilikinya aset budaya mereka.

3. Kegiatan ini nantinya akan selalu menyentuh pelaku budaya dengan cara yang berbeda dari yang selama ini dilakukan, yaitu dengan mempertemukan pelaku budaya dengan para wisatawan perkotaan. Kegiatan ini nantinya bisa menjadi model bagi peningkatan kepercayaan diri masyarakat dan pelaku budaya pada khususnya atas asset budaya yang mereka miliki.

4. Diperlukannya upaya yang sungguh-sungguh untuk meyakinkan masarakat atas peluang pengembangan sector pariwisata ini melalui pembentukan lembaga-lembaga wisata publik yang terdesentalisir, yang mendedikasikan dirinya untuk usaha mempertajam positioning Batu Kota Tujuan Wisata.

Kegiatan ini pada nantinya dapat mengisi bingkai Pariwisata Nasional diatas sekaligus mempertajam positioning Kota Batu sebagai salah satu Kota Tujuan Wisata Indonesia dengan bangkitnya kesadaran atas tinjauan kritis diatas.

Memoar Kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2008

Pertama kalinya dalam sejarah kota Batu, beberapa elemen masyarakat yang menyatu dalam sebuah kerja bersama Komunitas Penggiat Budaya Indonesia menyelenggarakan kegiatan kolosal kerakyatan bertajuk Gebyak Banthengan Nuswantara 2008.

Selain masyarakat lokal Batu dan Malang Raya, pelaku kegiatan ini juga terdiri dari beberapa tokoh nasional, sebut saja Ir. Samuel Koto, Drs. Chalid Muhammad, Ki Soleh, Gus Udin dan pada pelaksanaannya yang dikuti oleh 400 Seni Banthengan se Malang Raya di hadiri pula oleh Jendral (Purn.) Wiranto, Didi Nini Towok, Yusuf Rizal dan tokoh masyarakat lokal lainnya serta jajaran Muspida Kota Batu. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan organisasi dan komunitas se kota Batu, aparat kepolisian dan perhubungan benar benar sangat membantu tehnis pelaksanaan kegiatan ini

Pada awalnya, kegiatan Gebyak Banthengan Nuswantara 2008 yang di ketuai oleh Agus Riyanto, salah seorang seniman lukis dan tradisi kota Batu ini bertujuan khusus memecahkan rekor MURI, karena kegiatan ini adalah pertama kalinya di Indonesia digelar seni Banthengan di sepanjang jalan raya kota Batu (panjang rute sekitar 3 km). Terlebih, kegiatan ini adalah sebagai bentuk inovasi yang unik dalam bidang seni dan budaya tradisi.

Tentang kemasan acara, selain seni banthengan sebagai pertunjukan utama, kolaborasi yang terjadi dan sangat menarik adalah pertunjukan aksi Laskar Sakerah dan performance art teatrikal yang menyuguhkan cerita tentang 9 Handaka (9 Dewa Banteng). Kegiatan yang dimulai pada pukul 10 pagi sampai 4 sore ini benar benar mampu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang ada di kota Batu.

Selain acara gebyak banthengan, agenda kegiatan lain yang memberikan pesan edukasi kepada masyarakat tentang pelestarian seni budaya tradisional adalah diselenggarakannya Pameran Benda-Benda Seni Tradisi Indonesia dan Pameran Fotografi Gebyak Banthengan Nuswantara 2008 bertempat di Galeri Raos Batu. Keseluruhan agenda kegiatan tersebut dilaksanakan pada sepanjang bulan Maret 2008 dan sebagai penutup kegiatan, panitia melaksanakan Istighosah dan Do’a syukur bertempat di sekretariat Komunitas Penggiat Budaya Indonesia.

Permalink & Komentar

Lomba Foto Bantengan Nuswantara 2009

4 Februari 2009 at 17:55 (Uncategorized)

TEMA LOMBA :
CAKRAWALA HARMONI INDONESIA
Bantengan Sebagai Simbol Kerakyatan

LOKASI LOMBA :
Event Bantengan Nuswantara 2009
Minggu, 8 Maret 2009
Mulai pukul 09.00 WIB
Start Stadion Brantas Kota Batu – Jl. Agus Salim – Alun-Alun Kota Batu (Jl. Gajah Mada) – Jl. Panglima Sudirman – Finish Balai Kota Batu

LOKASI PAMERAN :
GALERI RAOS Jl. Panglima Sudirman 06 Kota Batu

15 – 18 Maret 2009

KETENTUAN UMUM LOMBA
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Pendaftaran gratis.
3. Mengisi formulir pendaftaran dan mendapat tanda peserta lomba (ID Hunting) di Sekretariat Panitia Bantengan Nuswantara 2009 Jl. Brantas gg. 2 no. 3 Kel. Ngaglik Kota Batu atau di Kantor Dinas Pariwisatakota Batu Jl. Sultan Agung no. 5 Batu mulai tgl 16 Februari – 7 Maret 2009.
4. Hasil foto yang didapat selama acara Bantengan Nuswantara 2009 tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil peserta.
5. Hasil pemotretan tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
6. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
7. Foto peserta yang diikutkan dalam lomba menjadi milik penyelenggara lomba (hak cipta tetap pada fotografer).
8. Dengan mengikuti lomba ini, peserta menyetujui segala ketentuan lomba.

KETENTUAN FOTO BANTENGAN NUSWANTARA 2009
1. Foto mempunyai ciri suasana event (overview atau detail) kegiatan Bantengan Nuswantara 2009
2. Menggunakan kamera format film atau digital jenis SLR, Prosumer atau Pocket.
3. Karya foto dicetak dengan ukuran 10RS (20 cm x 30 cm) full image tanpa border tanpa laminasi dan tanpa alas apapun dengan mencantumkan Judul dan No Peserta dibalik foto.
4. Olah digital diijinkan sebatas pada pengaturan kontras, dodging, sharpening, burning, noise reduction/dust removing dan cropping dan tidak dilakukan manipulasi (menghapus atau menambah) obyek atau subyek foto asli (termasuk watermark dan border juga dilarang).
5. Peserta wajib mengumpulkan karya foto dalam bentuk Hard Copy dan Soft Copy paling lambat tgl 10 Maret 2009 di Sekretariat Panitia Bantengan Nuswantara 2009 Jl. Brantas gg. 2 no. 3 Kel. Ngaglik Kota Batu atau di Dinas Pariwisata Kota Batu Jalan Sultan Agung no.5 Kota Batu

HADIAH DAN PENGUMUMAN LOMBA
1. Pengumuman dan penyerahan hadiah lomba akan diumumkan pada pembukaan pameran dan lomba foto BANTENGAN NUSWANTARA 2009 Hari Sabtu, 14 Maret 2009 pada jam 19.00 WIB
2. Foto seluruh peserta dan nominator akan dipamerkan di Galeri Raos Kota Batu pada tanggal 15 – 18 Maret 2009

 Juara 1 hadiah Rp. 1.000.000,-
 Juara 2 hadiah Rp. 750.000,-
 Juara 3 hadiah Rp. 500.000,-

CP :

Komunitas Penggiat Budaya Indonesia
Wido Bamandhika : 081333523000/085854803000
Hafid Adam : (0341)7377716/085649863762

Dinas Pariwisata Kota Batu
Aji Sakti (Cepek) : 081334076109

Permalink & Komentar

Gebyak Bantengan Nuswantara 2008

25 Januari 2009 at 06:01 (Uncategorized)

Bapak Wiranto bersama Walikota Batu Eddy Rumpoko kirab menuju dari start menuju tribun kehormatan di depan Balai Kota Batu naik mobil Willy's

Bapak Wiranto bersama Walikota Batu Eddy Rumpoko kirab menuju dari start menuju tribun kehormatan di depan Balai Kota Batu naik mobil Willy's

antusias mayarakat kota Batu dan wisatawan melihat karnaval bantengan

antusias mayarakat kota Batu dan wisatawan melihat karnaval bantengan

alun-alun Kota Batu

alun-alun Kota Batu

Permalink & Komentar

Bantengan Nuswantara 2009

24 Januari 2009 at 19:38 (Uncategorized)

Lambang Kegiatan Kolosal Kerakyatan Bantengan Nuswantara      Komunitas Penggiat Budaya Indonesia Kota Batu

Lambang Kegiatan Kolosal Kerakyatan di Kota Batu

Bantengan Nuswantara 2009, ini adalah agenda tahunan yang kedua. Tahun 2008, telah diselenggarakan Gebyak Bantengan Nuswantara 2008 yang diikuti oleh 400 seni bantengan se Malang Raya dan dihadiri beberapa tokoh nasional yaitu Jend. (purn.) H. Wiranto, Didi Nini Thowok, Mantan Direktur Eksekutif WALHI Nasional Chalid Muhamad, Samuel Koto dan Jusuf Rizal serta budayawan Jawa Timur.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas non pemerintah yaitu Komunitas Merah Putih dan Komunitas Ngaglik serta didukung oleh Organisasi Masyarakat, Kepemudaan dan Budaya yaitu Karang Taruna, Ikatan Mahasiswa Kota Batu (IMAKOBA), RAPI, ORARI, IPNU, Pemuda Pancasila, KNPI, PMI, Bang Mi’un dan Padepokan Mangun Dharma.

Tentang kemasan acara, selain kesenian bantengan yang tumpah ruah di sepanjang jalan raya kota Batu juga akan diisi oleh partisipasi Drum Band yang pemainnya para bapak bapak, Tari Topeng 1500 anak anak, Sendra Tari, Teatrikal Pelajar (performance art).

Bantengan Nuswantara 2009  berniat mengundang seluruh capres RI 2009-2014 dalam satu tempat dan satu momentum kebudayaan dengan tujuan bahwa menjelang pemilihan presiden 2009-2014, para calon pemimpin negara-bangsa Indonesia secara bersama mendeklarasikan Sumpah Palapa ke 2 yang nantinya tertuang dalam Piagam Batu untuk gambaran masa depan dan kebangkitan kembali Nusantara.

Dan yang perlu ditegaskan, bahwa kegiatan ini bukan acara kampanye salah satu partai akan tetapi sebuah kegiatan kolosal kebudayaan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Permalink & Komentar

8 Maret 2009

24 Januari 2009 at 19:05 (Uncategorized)

SEGERA

BATU, 8 MARET 2009

Kolosal Budaya Kerakyatan di Kota Batu

BANTENGAN NUSWANTARA 2009

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

bantengan sebagai simbol tatanan negara

24 Januari 2009 at 17:30 (Uncategorized)

banteng sebagai lambang sila ke 4 Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diambil dari makna filosofi kesenian Bantengan yang ketika dahulu Pancasila dirumuskan oleh Soekarno bersama K.H. Hasyim Asy’ari

Bantengan adalah simbol tatanan negara, sejak jaman kerajaan dan dimaknai oleh para pendiri negara-bangsa ini dengan menjadikan lambang kepala banteng sebagai simbol sila 4 Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

kesenian Bantengan, adalah kebudayaan Jawa kuno. ketika masa Pondok Pesantren Tebu Ireng digunakan sebagai media dakwah syiar agama islam. Kesenian Bantengan, bisa dibilang sangat unik karena melibatkan unsur 2 alam (realis dan magis). yaitu alam manusia dan jin (leluhur), maka jika kita melihat seriap seni Bantengan digelar terjadi kesurupan pada pemain, hal itu pula yang menambah keunikan kesenian ini.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar